6 Tarian Adat Sulawesi Tengah yang Ikonik dan Khas

  • Share

Sulawesi Tengah merupakan sebuah wilayah atau provinsi yang menjadi unsur dari borongan Pulau Sulawesi di tengah Indonesia. Dalam urusan luas provinsi ini merupakan wilayah yang terluas yang terdapat di Pulau Sulawesi diperbanyak mempunyai kepadatan jumlah warga kedua terbanyak sesudah Provinsi Sulawesi Selatan. Bagi kesenian, tarian adat Sulawesi Tengah pun mempunyai ragam dan keunikannya sendiri dibanding wilayah lainnya.

Provinsi Sulawesi Tengah mempunyai ibu kota provinsi yakni Kota Palu serta terletak di tengah atau jantung Pulau Sulawesi. Wilayah ini pun terkenal bakal wisata hidrografinya berupa Danau Poso dan Danau Lindu. Karena letaknya tepat diarungi oleh garis khatulistiwa maka terdapat tidak sedikit hasil pertanian yang diproduksi laksana kopi, kakao, kelapa, Cengkih, dan rempah-rempah lainnya.

Terdapat keragaman latar belakang adat dan kebiasaan dari peduduk pribumi maupun pendatang yang mendiami wilayah Sulawesi Tengah ini. Nilai seni dan kebiasaan yang terdapat di masyarakat pun unik dan bermacam-macam karena hal keragaman latar belakang penduduknya yang terdiri dari sekian banyak suku laksana Suku Kaili, Kulawi, Lore, Pamona, Mori, Bungku, Saluan, Balantak, Mamasa, Taa, Bare’e, Banggai, Buol, Tolitoli, dan sebagainya.

Terdapat pun para warga pendatang yang berasal dari Suku Bali, Jawa, Nusa Tenggara, Mandar, Bugis, Makasar, dan Toraja. Keragaman itulah yang menjadikan Provinsi Sulawesi Tengah mempunyai corak kebiasaan dan kesenian yang kaya dan unik. Berikut merupakan 6 tarian adat Sulawesi Tengah yang Ikonik dan Khas sebagai informasi pengetahuan kesenian kebiasaan tari di Daerah Sulawesi Tengah:

1. Tari Adat Pontanu

berita sulawesi hari ini ~ Tarian Adat Pontanu merupakan sebuah tari tradisional yang berasal dari kesenian masyarakat wilayah Donggala, Sulawesi Tengah. Tari menarik ini secara umum ditarikan dan dipentaskan oleh kaum perempuan yang bakal menggambarkan kegiatan perempuan Suku Kaili sedang menenun Sarung Donggala. Nama Tarian Pontanu berasal dari bahasa wilayah setempat “Pontanu” yang berarti menenun kain.

Tari ini pun dimaknai sebagai perwujudan apresiasi untuk para penenun kain sarung yang berasal dari wilayah Donggala. Disamping itu, Tari Adat Pontanu menjadi wadah untuk mengenalkan kain sarung khas Donggala untuk masyarakat Indonesia maupun turis luar. Keindahan kain khas Donggala mempunyai ciri motif yang inda diperbanyak sulaman benang emas sehingga meningkatkan kesan mewah dan istimewa.

2. Ari Torompio

arian yang satu ini berasal dari kebudayaan dan kesenian Suku Pamona, Sulawesi Tengah dengan nama Tari Torompio. Dari segi bahasa dan definisi Suku Pamona, kata “Torompio” ditafsirkan sebagai angin berputar. Gerakan tarian ini paling dinamis dan berputar-putar terlihat laksana angin yang berputar. Tari Torompio mencerminkan para muda mudi yang sedang dimabuk asmara dengan simbol berputar-putar dalam gerakan penarinya.

Kesenian tersebut pun termasuk jenis tarian pergaulan tradsional kaum muda yang dipentaskan dengan iringan musik yang berasal dari perangkat musik yakni gendang, gong, gitar, dan karatu (gendang duduk). Saat mengerjakan tariannya, semua penari pun akan mendendangkan dan menembangkan syair-syair lagu bertajuk asmara dan percintaan.

Pada masa-masa lampau, tarian ini tidak mempunyai struktur atau koreo gerakan tertentu melulu berupa gerakan spontan yang ditarikan oleh semua remaja muda mudi dalam jumlah yang tidak sedikit dan tidak dibatasi. Tempat paggelaran Tari Torompio umumnya dilaksanakan di lokasi yang tersingkap dan luas sebab nantinya semua penonton yang juga seringkali orang muda bakal berdiri dan menyusun lingkaran mengelilingi semua penari.

3. Tari Pamonte

Tarian Pamonte atau Tarian Pomonte adalahsalah satu tari tradisional yang berasal dari wilayah Parigi, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Tarian ini pun menjadi suatu tarian yang mencerminkan kehidupan dan kelaziman gadis dan kaum perempuan Suku Kaili yang hidup bertani dan biasa menyambut musim panen datang. Nama Pomonte berasal dari kata bahasa Suku Kaili Tama yakni “Po” yang memiliki makna pelaksana dan “Monte” yang memiliki makna tuai atau menuai.

Tarian pada tadinya terinspirasi dan tercetus sebab beragam kegiatan gadis-gadis Suku Kaili pada momen menyambut masa panen. Pada zaman dahulu memang pekerjaan memanen padi dengan memetik dan menuai menjadi salah satu pekerjaan yang vital untuk para kaum perempuan yang digarap secara bersama-sama dan gotong royong. Tari Pamonte jelas memperlihatkan bagaimana proses pengelolaan dari padi sampai menjadi beras.

Seperti umumnya seorang petani, semua penari bakal menari memakai properti topi caping dalam pertunjukannya. Gerakan semua penari tarian ini akan mengekor irama dari syair lagu yang disajikan. Pakaian semua penari tari tradisional ini seringkali menggunakan kebaya, sarung kain, kerudung, dan topi caping.

4. Tari Dero/Modero

Tarian Dero atau pun dikenal dengan nama Tarian Modero ialah sebuah kesenian tari tradisional yang berasal dari wilayah Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Tari satu ini memang berakar dari nilai kebiasaan dan kesenian dari Suku Pamona yang masih terus dilestarikan di dalam kehidupan masyarakatnya.

Suku Pamona sendiri menanam Tari Dero sebagai suatu kesenian tari yang menggambarkan rasa suka cita dan bahagia serta unsur dari format syukur atas berkat untuk Tuhan yang didapat dalam panen raya. Secara umum tarian ini tidak jarang dipentaskan dan dilangsungkan dalam sekian banyak acara pesta adat, upacara adat, panen raya, dan acara masyarakat lainnya. Keunikan dan keunggulan kesenian tari ini merupakan di samping sebagai suatu tarian tradisiona.

Tarian ini juga dirasakan sebagai penyatu dalam kehidupan bermasyarakat karena dilaksanakan secara bersama-sama tanpa memandang latarbelakang orang yang terdapat baik dari kaum berada atapun kaum yang miskin. Suasana kebersamaan, kerukunan, dan persahabatan antar penduduk masyarakat begitu terasa dan tergambarkan dalam momen ini. Selain tersebut juga, untuk sejumlah pemuda dan pemudi, tarian ini menjadi di antara ajang untuk dapat saling mengenal dan menggali jodoh.

5. Tari Raego Sulawesi Tengah

Tarian Rego pun dikenal dengan nama Tari Raigo ataupun Tari Raego adalahsalah satu format tarian tradisional yang berkembang di sejumlah suku di Sulawesi laksana Suku Rugawi, Suku Kaili, Suku Kulawi, dan Suku Bada. Tarian ini pun identik dengan karakteristik yang memadupadankan antara tarian dan syair-syair tradisional. Dalam atraksi tariannya, Tari Raego dilangsungkan dan ditarikan dengan susunan melingkar yang lantas akan dinyanyikannya syair-syair panjang berbahasa kuno wilayah yaitu bahasa uma tua.

Syair yang dibawakan dalam tarian ini sangat pelbagai menyesuaikan dengan acara apa tarian ini dipentaskan. Tari Raego biasa diperlihatkan pada acara-acara di dalam masyarakat laksana panen raya, hiburan ketika ada family yang berkabung dengan mensyairkan kebajikan orang yang telah wafat, dan acara adat lainnya. Makna dari Tari Raego tidak saja sekedar tari tradisional yang mempunyai sifat hiburan namun pun sebagai ungkapan bakal rasa syukur, rasa gembira, rasa simpati, dan pemujaan untuk Tuhan yang menciptakan.

6. Tari Balia

Tarian Balia dapat dibilang sebagai di antara tarian khas yang berasal dari Suku Kaili, Sulawesi Tengah. Tarian ini identik dengan keyakinan animisme masyarakat mengenai dewa-dewa dan nenek moyang yang dirasakan sakral. Nila-nilai keyakinan untuk hal-hal ghaib yang bersangkutan dengan nenek moyang masih terasa dalam praktik tarian ini. Di samping itu, Tari Balia pun erat hubungannya dengan penyembuhan tradisional untuk seseorang yang terkena akibat dari urusan ghaib atau roh jahat.

Nama Baila sendiri berasal dari dua kata bahasa setempat yakni “Bali” yang berarti tantang/menantang, serta “ia” yang berarti dia yang dalam urusan ini berupa roh jahat/setan atau penyakit. Tarian ini masih diyakini sebagai “prajurit” yang dapat memberantas sekian banyak macam penyakit dalam masyarakat baik penyakit biasa mapun yang dirasa penyakit sebab hal ghaib. Dalam pertunjukannya tarian ini diiringi oleh buaian musik yang berasal dari Lalove (seruling) dan Gimba (gendang).

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *