Bagaimana semua sineas Berpengaruh di Perfilman Indonesia

  • Share

Perjalanan panjang industri perfilman di Indonesia tidak melulu ditandai dengan adanya pertumbuhan ekonomi, namun pun oleh kontribusi dari semua sineas terbaik bangsa. Sejak merdeka, industri perfilman Indonesia telah melewati tiga periode – era Soekarno, era Orde Baru, dan era pasca Reformasi – yang sejalan dengan evolusi rezim di negara ini.

1. Lahirnya sinema Indonesia modern

Beberapa bulan sesudah Indonesia mendapat pernyataan internasional sebagai bangsa yang merdeka pada akhir tahun 1949, Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini) menciptakan voir film yang mengusung perjuangan Indonesia dalam menjangkau kemerdekaan. Perusahaan ini dipimpin oleh Usmar Ismail. Ia dikenal sebagai pelopor urgen perfilman Indonesia pada mula masa kemerdekaan. Film kesatu Perfini setelah kebebasan yakni Darah dan Do’a (1950) lantas disusul Lewat Djam Malam (1954) yang terinspirasi oleh sineas Italia tahun 1940-an laksana Roberto Rossellini.

Film neorealis Rossellini mencerminkan perlawanan terhadap kehadiran Nazi dan pemerintahan fasis di Italia yang terjadi pada akhir Perang Dunia Kedua. Namun, Usmar Ismail memungut satu tahapan lebih maju dibanding semua neorealis Italia sebab berani mengusung ambiguitas moral dan pelanggaran hak asasi insan selama periode revolusi. Dalam film Lewat Djam Malam, misalnya, figur utama yang mempunyai nama Iskandar, dicerminkan mengalami keresahan sesudah melakukan durjana perang. Film-film mula Usmar Ismail paling dihormati, sampai-sampai tanggal 30 Maret, yang bertepatan dengan hari kesatu buatan filmnya Darah dan Do’a, diperingati sebagai Hari Film Nasional di Indonesia.

Pada tahun 1955, Perfini menciptakan film yang dapat jadi adalahfilm satir politik kesatu yang diciptakan orang Indonesia, berjudul Tamu Agung. Film tersebut menyindir perayaan berlebihan terhadap tokoh Soekarno dan mengungkap bahaya dari kepemimpinan politik karismatik. Pada tahun 1957, Perfini pun memproduksi suatu film komedi Betawi kesatu berjudul Tiga Buronan, disutradarai oleh Nja Abbas Akup. Namun, industri film Indonesia merasakan fase naik dan turun. Salah satu dekadensi industri film Indonesia terjadi pada akhir era Soekarno dan tahun-tahun sesudah tragedi 1965. Hanya terdapat tujuh film yang diciptakan pada tahun 1968.

2. Kritik sosial pada masa Orde Baru

Di antara tahun 1970 sampai 1988, rata-rata buatan film Indonesia naik menjadi 70 film per tahun, sebagian disebabkan oleh munculnya bentuk layar lebar dan film warna. Pada tahun 1970-an, muncul sekian banyak sutradara baru laksana Sjuman Djaya yang pernah menempuh edukasi di Moskow, Rusia. Di samping itu, ada pun nama lain laksana Teguh Karya, yang bareng dengan kumpulan Teater Populer menciptakan 13 film pada tahun 1970 hingga 1988. Salah satunya ialah epik sejarah berjudul November 1828, yang berlalu pada 1979. Selain mencerminkan peristiwa dari sudut pandang warga desa dalam melawan kolonialisme Belanda sekitar Perang Jawa (1825-1830), film ini membenturkan nilai-nilai Jawa dan nilai-nilai kolonial Barat.

November 1828 adalahfilm Indonesia kesatu yang dikenal luas di Eropa. Film ini pun pernah diputar di pesta rakyat film London dan Berlin. Pada tahun 1985, Teguh mencatat dan menyutradarai filmnya yang sangat inovatif, Secangkir Kopi Pahit. Menggunakan struktur kilas balik, film ini mencerminkan nasib orang-orang yang bermigrasi ke kota dari pedesaan di sekian banyak wilayah di Indonesia. Sjuman Djaya pun memberikan kontribusi urgen dengan memproduksi film-film yang memperkaya kritik sosial dalam perfilman era Orde Baru. Salah satunya ialah filmnya Si Mamad (1973) yang berisi sindiran terhadap praktik korupsi pada kalangan birokrat.

3. Melestarikan sinema nasional yang kritis

Film-film yang diproduksi pada masa mula terbentuknya Perfini sering dirasakan sebagai landasan timbulnya “perfilman nasional”. Namun, film film ini pun adalahsalah satu format “perfilman nasional kritis”, yang menonjolkan dan menyinggung sekian banyak aspek negatif dari negara yang waktu tersebut baru terbentuk.Tema-tema yang diangkat di antaranya ialah pelanggaran hak asasi insan oleh pejuang kemerdekaan, korupsi yang dilaksanakan kalangan tentara, dan bahaya kepemimpinan politik karismatik. Kepedulian untuk menciptakan film yang relevan secara sosial menjadi nyata pada film-film pada masa mula Perfini. Semangat dari film-film tersebut lantas diteruskan secara invatif oleh semua sineas Indonesia generasi kedua, ketiga, dan keempat.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *