Deretan Film Noir ciamik guna akhir pekan

  • Share

Bagi peminat film, tentu familiar dengan istilah noir. Richard Brody di website The New Yorker, menyinggung genre film noir ialah genre  film streaming VF en français yang ganjil. Jika genre film musikal bakal melibatkan tidak sedikit tarian dan lagu, sedangkan genre perang akan memperlihatkan peperangan, tidak demikian dengan genre noir. Istilah noir kesatu kali dipakai oleh kritikus Nino Frank pada 1946. Nino Frank menyinggung genre noir sebagai film dengan narasi psikologi, saat balutan aksi menjadi tidak cukup penting dan unik daripada mimik wajah, gestur badan, dan kata-kata. M.E. Holmes, dalam situs yang didedikasikan guna Nino Frank, menyinggung genre film ini akan berjuang menyajikan karakter tiga dimensi, melawan narasi film-film Hollywood yang seringkali menyederhanakan narasi sebatas kebajikan melawan kejahatan. Banyak film noir yang mengeksplor tema drama kriminal.

Visual dari film noir seringkali dicirikan dengan cara visual chiaroscuro, atau kontras yang powerful antara lokasi gelap dan terang. Pencahayaan chiaroscuro dipakai untuk menghadirkan efek dramatis, laksana yang tampak dalam karya Orson Welles, Citizen Kane. Citizen Kane merupakan misal terbaik bagaimana Welles dengan apiknya memakai chiaroscuro untuk membina atmosfir dalam filmnya. Sementara plot dalam film-film noir seringkali berputar pada masalah kriminal, pembunuhan, serta penyelidikan yang dilaksanakan oleh detektif, entah level professional, panggilan, ataupun amatir. Sebuah film noir biasanya dideskripsikan sebagai film yang berbau pesimis. Kebanyakan cerita-cerita noir menceritakan orang yang terjebak dalam kondisi yang tak diinginkannya, berusaha melawan sesuatu yang ambigu, serta nasib yang tak menentu. Berikut ini ialah daftar film noir yang dapat kamu simak akhir pekan ini.

1. Vertigo (Alfred Hitchcock, 1958)

Sebelum ditasbihkan sebagai di antara film terbaik sepanjang masa, thriller psikologis ini tidak diapresiasi dengan baik di mula kemunculannya oleh publik Amerika. Sutradaranya, Hitchcock, sempat putus asa dan menyalahkan keputusannya memasang James Stewart sebagai mantan detektif John “Scottie” Ferguson yang dianggapnya terlampau tua guna lawan mainnya, Kim Novak, yang saat tersebut berusia 24 tahun. Vertigo dimulai dengan aksi kejar-kejaran Detektif Scottie dengan seorang pelaku kriminal di atas atap hunian kota San Fransisco. Saat tidak berhasil melompat dan bergelantungan di atap, Scottie mulai merasakan takut ketinggian dan vertigonya tiba-tiba muncul. Setelah kejadian itu, ia menyimpulkan pensiun dini dari kepolisian. Teman lama Scottie, Gavin Elster, mempekerjakannya sebagai detektif swasta untuk mengekor istrinya Madeleine (Kim Novak) yang bertingkah aneh. Sejak menerima kegiatan tersebut, Scottie mulai terjebak oleh pikirannya sendiri dan merasakan gangguan psikologis.

2. Nightcrawler (Dan Gilroy, 2014)

Nightcrawler ialah sindiran pada kegiatan jurnalis dan sisi gelap media yang memasarkan berita-berita bombastis sonder etika dalam proses penelusuran berita. Penampilan Jake Gyllenhaal sebagai videografer lepas, yang memasarkan beritanya ke stasiun televisi, menjadi suguhan utama film ini. Lou Bloom (Jake Gyllenhaal) ialah seorang kriminal ruang belajar teri yang terinspirasi oleh kameramen lepas (Bill Paxton), ketika merekam kemalangan mobil dan memasarkan videonya pada penawar tertinggi. Lou dengan ambisi, sifat perfeksionis, dan perilaku manipulatifnya, sukses dan berhasil di dunia videografi kriminal. Film sepanjang 117 menit ini akan menyuruh kita menyaksikan pengembangan dari karakter Lou yang perlahan menjadi figur antagonis tersebut sendiri. Lou menjadi karakter yang tak dapat ditebak dan menakutkan. Seperti karakter Daniel Plainview yang ikonik di There Will Be Blood (2007), mengarah ke akhir film Lou seolah kehilangan sisi kemanusiaannya laksana Daniel.

3. Blue Velvet (David Lynch, 1986)

Rasanya, nyaris seluruh film yang diciptakan oleh David Lynch mempunyai kadar noirnya masing-masing. Lynch gemar menciptakan kisah-kisah kriminal dan menciptakan nasib figur utamanya tak pasti terombang-ambing keadaan. Dari riwayat filmnya, Blue Velvet ialah film Lynch yang sangat ringan dan mudah dicerna dibanding karyanya yang lain. Berlatar di kota kecil Lumberton, Jeffery Beaumont (Kyle MacLachlan) berjalan mengarungi sebuah tanah kosong dan mengejar potongan telinga manusia. Temuannya ini membuatnya penasaran dan dengan kenekatannya, ia mengerjakan penyelidikan layaknya detektif amatir, sampai akhirnya penyelidikannya membawa ia bertemu Frank Booth (Dennis Hopper). Frank Booth menjadi antagonis yang tak hendak kamu temui dalam kehidupan nyata. Ia ialah sosok amoral dan psikopat yang gemar mencium nitrous oxide. Lynch memperlihatkan dunia malam yang begitu kasar dan vulgar dari kota kecil Lumberton, yang terlihat muskil dipercayai.

4. Drive (Nicolas Winding Refn, 2011)

Drive menceritakan seorang supir tanpa nama (Ryan Gosling), yang bermukim di suatu apartemen di Los Angeles. Ia sangat irit bicara, jarang mengindikasikan emosi, dan terlihat laksana tak memiliki kesukaan dalam kehidupan. Hidupnya hanya dikuras di bengkel, tempat syuting lokasi ia menjadi stunt-man, dan jalanan. Aksi si supir dan tokoh-tokoh beda menjadi hidangan sekunder untuk penonton film ini. Yang menarik ialah bagaimana karakter Ryan Gosling menjadi anti-hero tersebut sendiri dalam dunia yang sarat dengan antagonis. Karakter supir perlahan berubah sepanjang film sesudah ia bertemu tetangga samping pintu apartemennya, Irene (Carrey Mulligan). Si supir yang sepanjang film paling diam dan dingin sadar andai ia dapat menjaga orang beda dan keselamatan Irene serta anaknya, yang tak bersalah, mestilah menjadi konsentrasi utamanya.

5. Memento (Christopher Nolan, 2000)

Nolan memakai gaya bercerita non-linear dalam Memento. Jika dalam film-film lain pemirsa akan diciptakan bertanya-tanya mengenai apa yang bakal terjadi selanjutnya, maka urusan yang kebalikannya terjadi di Memento. Pertanyaan yang muncul lantas adalah: apa yang terjadi sebelumnya. Tokoh utama film ini, Leonard Shelby (Guy Pearce) kehilangan kenangan jangka pendeknya sebab sebuah cedera. Bagi mengingat-ingat apa yang sedang terjadi, ia menciptakan catatan-catatan kecil, tato, dan membawa kamera polaroid ke manapun ia pergi. Berbekal ketiga urusan tersebut, ia menyusun kepingan-kepingan kenyataan tersebut untuk menggali pembunuh istrinya. Yang terjadi kemudian ialah penonton tidak pernah tahu siapa yang membunuh istri Leonard. Penonoton bakal sama bingungnya dengan Leonard. Alih-alih menyusun fakta, Leonard hanyalah menyusun persepsinya untuk lantas ia percayai. Nolan benar-benar menantang keterampilan analisis penontonnya dalam Memento.

 

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *