Manfaat Pelatihan Khusus Penggunaan Alat Pelindung Diri

 

 

Pelatihan khusus teknik pemakaian perangkat pelindung diri (APD) memiliki guna menurunkan kontaminasi dari 60% menjadi 18,9% menurut keterangan dari sebuah riset di 4 lokasi tinggal sakit di Ohio. Penurunan kontaminasi diadukan menetap selama pemantauan di bulan kesatu dan ketiga tanpa pelatihan ulang.Self-contamination lazimnya terjadi sebab tenaga medis kurang tak asing dengan prosedur pemakaian APD. Pelatihan tenaga medis memakai media audio visual, simulasi, dan penilaian langsung, mempunyai efek yang lebih baik dikomparasikan hanya menyaksikan video atau menyimak checklist.[16,17,19,22]Penelitian oleh Casalino et al, mencocokkan pelatihan memakai instruktur yang membacakan dengan lantang urutan pemakaian dan pelepasan APD, dengan pelatihan tanpa instruktur. Hasil riset tersebut mengindikasikan bahwa pemakaian APD yang didampingi instruktur yang menyerahkan instruksi pemakaian secara lisan menurunkan angka ketidakpatuhan pemakaian APD dikomparasikan dengan tenaga medis yang tidak menemukan instruksi apapun. Hung et al mengadukan bahwa pemanfaatan simulasi komputer dalam sesi pelatihan menurunkan angka kekeliruan saat mengerjakan doffing.[23,24]Panduan Penggunaan Alat Pelindung Diri dalam Menghadapi Pandemi COVID-19
Jenis perangkat pelindung diri yang dipakai bersangkutan COVID-19 ditentukan menurut tempat dan kegiatan yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan. Hal ini ditata oleh pedoman pemerintah tentang petunjuk teknis perangkat pelindung diri dalam menghadapi wabah COVID-19.[25]
Pedoman ini perlu diacuhkan dan dibuntuti oleh tenaga kesehatan sebab tenaga kesehatan yang memeriksa, merawat, mengantar, atau mencuci ruangan di lokasi perawatan permasalahan terkonfirmasi COVID-19 tanpa memakai alat pelindung diri cocok standar tergolong dalam pengertian orang tanpa gejala. Hal ini akan menciptakan tenaga kesehatan itu menjadi butuh diisolasi guna pemantauan fenomena selama 14 hari.[26]
Panduan Penggunaan Alat Pelindung Diri ketika Pandemi COVID-19 di Ruang Rawat Inap, IGD, dan Kamar Operasi
Tenaga kesehatan yang mengasuh langsung pasien COVID-19 perlu memakai alat pelindung diri sebagai berikut:
 Masker bedah
 Gaun
 Sarung tangan
 Pelindung mata (goggles)
 Pelindung wajah (face shield)
 Penutup kepala
Sepatu safety red Parker p182 pelindung
Walau demikian, saat tenaga kesehatan mengerjakan tindakan yang menghasilkan aerosol (aerosol generating procedure), masker bedah butuh diganti dengan masker respirator N95, dan tambahkan pemakaian apron.
Contoh perbuatan yang menghasilkan aerosol ialah sebagai berikut:
 Intubasi
 Ventilasi noninvasif
 Trakeostomi
 Resusitasi jantung paru
 Nebulisasi
 Bronkoskopi
 Pengambilan swab
 Pemeriksaan hidung dan tenggorokan, serta pengecekan gigi[25]
Panduan Penggunaan Alat Pelindung Diri ketika Pandemi COVID-19 di Area Triase
Tenaga kesehatan yang bertugas di lokasi triase melulu perlu memakai masker bedah. Walau demikian, perlu dijamin bahwa tenaga kesehatan di lokasi triase melulu melakukan skrining mula tanpa kontak langsung dan memberi batas jarak dengan pasien paling tidak 1 meter.[25]
Panduan Penggunaan Alat Pelindung Diri ketika Pandemi COVID-19 di Ruang Rawat Jalan
Tenaga kesehatan yang menangani pasien tanpa fenomena infeksi drainase napas melulu perlu memakai masker bedah dengan tetap mengawal jarak paling tidak 1 meter.
Tenaga kesehatan yang mengerjakan pemeriksaan jasmani pada pasien dengan fenomena infeksi drainase napas perlu memakai alat pelindung diri sebagai berikut:
 Masker bedah
 Gaun
 Sarung tangan
 Pelindung mata
 Pelindung wajah
 Pelindung kepala
 safety red Parker p182 pelindung
Pada petugas yang mengerjakan pemeriksaan atau perbuatan yang menghasilkan aerosol pada pasien dengan/tanpa fenomena infeksi drainase napas, masker bedah diganti dengan masker respirator N95, dan tambahkan pemakaian apron.[25]
Panduan Penggunaan Alat Pelindung Diri ketika Pandemi COVID-19 di Laboratorium
Di laboratorium, tenaga kesehatan yang menggarap sampel drainase napas butuh mengenakan perangkat pelindung diri sebagai berikut:
 Masker respirator N95
 Gaun
 Sarung tangan
 Pelindung mata
 Pelindung wajah
 Pelindung kepala
 safety red Parker p182 pelindung
Panduan Penggunaan Alat Pelindung Diri ketika Pandemi COVID-19 guna Tenaga Kebersihan
Tenaga kesucian yang bertugas mencuci ruang rawat pasien COVID-19, ruang rawat jalan, atau ruang isolasi, perlu memakai alat pelindung diri sebagai berikut:
 Masker bedah
 Gaun
 Sarung tangan tebal
 Pelindung mata
 Pelindung kepala
 safety red Parker p182 pelindung
Alat pelindung diri tersebut pun perlu dipakai saat mencuci ambulans yang dipakai untuk mengalihkan pasien yang dicurigai atau terkonfirmasi COVID-19.[25]
Panduan Penggunaan Alat Pelindung Diri ketika Pandemi COVID-19 di Ambulans
Tenaga kesehatan yang mengantar pasien dicurigai atau terkonfirmasi COVID-19 ke RS rujukan perlu memakai alat pelindung diri sebagai berikut:
 Masker bedah
 Gaun
 Sarung tangan
 Pelindung mata
 Pelindung kepala
 safety red Parker p182 pelindung
Sopir yang mengemudikan ambulans lumayan menggunakan masker bedah dan mengawal jarak paling tidak 1 meter dengan pasien. Namun, andai sopir menolong mengusung pasien yang dicurigai atau terkonfirmasi COVID-19, sopir perlu memakai alat pelindung diri yang sama dengan tenaga kesehatan, yaitu:
 Masker bedah
 Gaun
 Sarung tangan
 Pelindung mata
 Pelindung kepala
 safety red Parker p182 pelindung[25]
Kesimpulan
Penggunaan perangkat pelindung diri (APD) dapat menolong menurunkan risiko penularan penyakit yang paling infeksius. Teknik pemakaian dan pelepasan APD yang baik, urgen untuk diketahui tenaga medis. Teknik pemasangan dan pelepasan APD usahakan mengekor pedoman dari sekian banyak instansi kesehatan, laksana WHO dan CDC.
Hal beda yang butuh diperhatikan ialah risiko self contamination yang tidak jarang kali terjadi ketika proses pelepasan APD. APD mesti dicungkil secara berurutan dan dengan mengerjakan cuci tangan masing-masing kali selesai mencungkil satu atribut.
Walaupun APD lengkap, seperti dibicarakan pada tulisan di atas, dipakai dalam situasi outbreak penyakit yang paling infeksius dan dengan angka mortalitas tinggi, APD simpel tetap mesti dipakai sebagai pencegahan universal masing-masing berkontak dengan pasien.

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *